Di tepian rawa, seorang pria muda dari suku Sinto, Hadan, berdiri mematung di atas pohon yang menjadi menara pengawas darurat. Angin menerpa wajahnya, tapi tubuhnya mendadak kaku ketika matanya menangkap pergerakan besar dari arah selatan.

Ratusan pria bersenjata berjalan berbaris rapi. Tubuh mereka dihiasi cat perang hitam-merah, wajah mereka penuh amarah. Di belakang barisan, tiga makhluk besar bergerak dengan langkah berat. Setiap langkahnya mengguncang tanah, dan mata merah mereka bersinar menembus bayangan hutan. Air liur kental menetes dari rahang penuh taring mereka.

Hadan menelan ludah, tubuhnya gemetar. "Ini... ini tidak mungkin," gumamnya. Ia berusaha menghitung jumlah musuh, tapi angka itu terlalu besar. "Hampir seratus... dan tiga monster itu... kita tidak mungkin menang!"

Ia melompat turun dari pohon dengan panik, hampir terjatuh di tengah langkah terburu-buru menuju kampung. Napasnya terengah-engah, dan kakinya seperti tidak mampu bergerak cukup cepat. Ketika ia tiba di kampung, wajahnya pucat pasi.

"Mereka... mereka datang!" Hadan berteriak, suaranya menggema di seluruh kampung. "Monrest! Hampir seratus orang... dan monster! MONSTER BESAR!"

Penduduk mulai keluar dari tenda-tenda mereka, wajah-wajah penuh kebingungan berubah menjadi ketakutan saat mendengar teriakan Hadan. Anak-anak mulai menangis, dan para wanita berpegangan satu sama lain dengan cemas.

"Kau yakin?" tanya salah satu pria tua dengan suara gemetar.

"Aku melihat mereka sendiri!" Hadan hampir menangis. "Mereka menuju ke sini! Kita tidak punya waktu!"

Kepanikan melanda. Beberapa penduduk mencoba berlari ke arah rawa, tapi dihentikan oleh Maret, kepala suku. "BERHENTI! Kita tidak akan selamat jika lari seperti ini!"

Lynx muncul dari arah tenda utama, diikuti Leena dan Sherly. "Apa yang terjadi?" tanyanya, suaranya tegas meskipun suasana di sekelilingnya kacau.

"Mereka datang!" Hadan berteriak. "Hampir seratus orang... dan monster! Besar sekali! Mereka pasti akan membunuh kita semua!"

Lynx menghampiri Hadan, meletakkan kedua tangannya di bahu pria itu. "Tenang. Jelaskan dengan jelas. Apa yang kau lihat?"

Hadan mengatur napasnya yang tersengal-sengal. "Pasukan Monrest. Banyak. Mereka bersenjata lengkap... dan tiga monster besar bersama mereka. Mereka menuju ke sini."

Sherly mendengus. "Sudah kubilang. Mereka pasti akan datang. Dan kau pikir jebakan kecil itu cukup?" Nada suaranya mengejek, tapi Lynx tidak meresponsnya. Matanya menatap serius ke arah Maret.

"Kumpulkan semua orang. Kita ikuti rencana," ujar Lynx, suaranya tegas.

"Kumpulkan senjata!" Maret berteriak pada penduduk. "Semua orang, ke posisi masing-masing!"

Para pria bergegas mengambil tombak kayu dan parang sederhana. Anak-anak dan wanita dibawa ke bagian tengah kampung, di mana mereka akan lebih terlindungi. Leena mendekati Lynx, wajahnya tegang.

"Lynx, mereka terlalu banyak," katanya lirih. "Dan monster itu... bagaimana kita bisa melawan makhluk seperti itu?"

"Kita tidak punya pilihan," balas Lynx sambil memeriksa parangnya. "Jebakan kita akan bekerja. Kita hanya perlu memanfaatkan posisi kita dan membuat mereka bertarung di tempat yang kita inginkan."

"Dan kalau jebakan gagal?" Leena menatapnya, matanya penuh kekhawatiran.

Lynx berhenti sejenak, lalu menjawab dengan tegas, "Kita bertarung sampai akhir."

Di dekat pagar runcing di tepi rawa, Lynx memeriksa setiap jebakan bersama beberapa pria Sinto. Lubang-lubang jebakan ditutupi dengan hati-hati oleh dedaunan dan ranting. Pagar runcing telah diolesi racun, dan batu-batu besar yang diikat dengan tali rotan digantung di atas pohon.

"Pastikan semuanya siap. Kalau mereka masuk, kita harus biarkan jebakan ini bekerja lebih dulu," kata Lynx sambil menarik tali untuk memastikan kekuatannya.

Maret menghampirinya. "Lynx, sebagian dari penduduk ingin melarikan diri ke hutan."

"Mereka tidak akan selamat di luar sana," jawab Lynx. "Beri tahu mereka, bertahan di sini adalah satu-satunya cara."

Sherly berdiri di belakang Lynx, tangannya memegang busur panah. "Kalau kita kalah, tidak ada yang akan bertahan, Lynx. Kita butuh rencana lebih baik."

"Kita sudah punya rencana," balas Lynx sambil menatap tajam ke arahnya. "Ikuti saja instruksiku."

Di tengah persiapan, seorang pria muda berlari ke arah Lynx. "Mereka sudah dekat! Kami bisa mendengar langkah mereka!"

"Kembali ke posisi kalian!" teriak Lynx. Ia memandang Leena yang berdiri tak jauh. "Pastikan racunmu siap."

Leena mengangguk, membawa wadah racun ke arah pagar. Di belakangnya, Nenek Drona membisikkan doa, sementara para pria Sinto mulai memukul tombak mereka ke tanah, mencoba menenangkan diri dan meningkatkan keberanian. Semua pasukan suku Sinto sudah bersiap diposisi dengan berbagai senjata tombak dan panah.

"Kita bisa melakukannya," gumam Lynx kepada dirinya sendiri. Ia menatap hutan, di mana bayangan pasukan Monrest mulai terlihat. "Mereka tidak tahu apa yang menunggu mereka."

Sorak-sorai pasukan Monrest dan gemuruh langkah kaki monster mereka semakin mendekat. Udara di kampung terasa berat, dipenuhi ketegangan yang membuat setiap detik terasa seperti selamanya.

Pasukan Monrest bergerak mendekati perkampungan Sinto dengan gemuruh langkah kaki yang menggetarkan tanah. Revan memimpin di depan, matanya menyapu area sekitar dengan tajam. Ia memperhatikan setiap detail, langkahnya melambat saat mereka mencapai tepian rawa. Di depannya, terlihat sebuah jembatan kayu baru yang melintasi rawa.

"Ini tidak ada sebelumnya," gumam Revan, alisnya berkerut. Dia pernah beberapa kali datang. Instingnya memberinya peringatan samar, dan perasaan itu semakin menguat.

"Ada apa?" tanya Nesa dari belakang, matanya menyipit karena penasaran.

Revan menunjuk jembatan itu. "Aku pernah datang ke tempat ini. Tidak ada jembatan di sini waktu itu. Mereka baru saja membangunnya."

Jor tertawa, suaranya berat dan penuh ejekan. "Jembatan? Hanya itu yang membuatmu berhenti? Apa kau takut mereka memasang jebakan kecil? Ini suku kecil, Revan. Mereka bahkan tidak tahu cara bertarung."

Nesa ikut tertawa kecil. "Kau terlalu menganggap tinggi orang-orang Sinto ini. Jembatan itu hanya untuk mempermudah mereka lari."

Revan tetap diam, matanya masih memandang jembatan dengan curiga. "Kita tidak tahu apa yang mereka siapkan. Aku tidak mau mengambil risiko." Ia mengangkat tangannya, memberi aba-aba pada salah satu regu di belakangnya. "Kalian, sepuluh orang. Periksa jembatan itu. Pastikan aman."

Para prajurit Monrest dalam regu itu saling melirik, tetapi tidak berani membantah. Mereka maju, melewati jembatan dengan senjata siap di tangan. Dari balik dedaunan yang rimbun, Lynx mengamati mereka dengan napas tertahan.

"Kenapa mereka mengirim regu kecil?" gumam Leena, yang berjongkok di sampingnya.

"Mereka tahu ada sesuatu yang salah," balas Lynx dengan nada rendah. "Mereka tidak bodoh." Ia melirik Maret, lalu berbisik tegas. "Katakan pada semua orang untuk tetap diam. Jangan bergerak sampai aku memberi aba-aba."

Leena mengangguk dan merayap ke belakang untuk menyampaikan pesan. Di dekatnya, Sherly menghela napas pelan. "Seharusnya kita serang saja mereka sekarang."

"Diam, Sherly," tegur Lynx tanpa menoleh. Matanya tetap tertuju pada regu Monrest yang melintasi jembatan. Ketika regu itu mencapai ujung tanpa ada kejadian, Revan tersenyum tipis.

"Aman," kata salah satu prajurit dari regu itu, melambaikan tangan ke arah pasukan utama.

Revan tetap berdiri di tempatnya, matanya menyipit. "Maju," perintahnya pada seluruh pasukan. "Bawa monster juga."

Pasukan Monrest mulai bergerak melewati jembatan dengan percaya diri. Jembatan itu bergetar di bawah berat langkah kaki mereka. Di belakang mereka, tiga monster besar mengikuti, mengeluarkan suara geraman rendah yang membuat udara semakin tegang.

Lynx mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat pada para pemanah Sinto yang bersembunyi di balik dedaunan. Mereka menarik tali busur, anak panah berlapis racun siap dilepaskan. Lynx menunggu sampai sebagian besar pasukan Monrest berada di jembatan. Ia menatap Maret dan mengangguk.

"Aba-aba sekarang," bisik Lynx. "Serang."

Dalam sekejap, puluhan anak panah melesat dari balik pohon dan semak-semak, menghujani pasukan Monrest di atas jembatan. Jeritan kesakitan memenuhi udara. Para prajurit Monrest yang terkena panah langsung tumbang, tubuh mereka kejang-kejang akibat racun yang cepat menyebar di aliran darah.

"Panah beracun!" salah satu prajurit Monrest berteriak sebelum jatuh ke tanah, matanya melotot tanpa nyawa.

Lynx melompat keluar dari persembunyian, memimpin serangan langsung dengan parang di tangannya. Dengan kekuatannya yang luar biasa, ia menyerang regu yang pertama kali menyeberang. Parangnya bergerak seperti kilat, memotong senjata dan tubuh musuh dengan mudah.

Sepuluh orang di regu pertama tidak sempat melawan. Mereka terkapar dengan luka yang dalam, darah mengalir deras dari tubuh mereka. Lynx berdiri di tengah mereka, napasnya berat, matanya penuh amarah.

Di sisi lain jembatan, Revan melihat kekacauan itu dengan rahang mengeras. Beberapa prajurit yang masih hidup mundur dengan tergesa-gesa, sebagian besar jatuh ke rawa akibat panah yang menghujani mereka. Monster-monster besar di belakang mereka mengeluarkan geraman marah, tapi tidak bisa bergerak maju karena desakan pasukan yang mundur panik.

"Mundur!" Revan berteriak dengan suara lantang. "Semua mundur ke sini!"

Pasukan Monrest yang tersisa segera kembali ke posisi Revan, membawa beberapa yang terluka. Banyak dari mereka yang terkena panah sudah tidak bisa diselamatkan, tubuh mereka melemah akibat racun. Beberapa jatuh di tengah jalan, mulut mereka berbusa.

Jor memandang pemandangan itu dengan mata melotot. "Mereka... mereka mempersiapkan ini. Orang-orang Sinto ini ternyata bukan pecundang."

"Diam!" bentak Revan, matanya tetap tertuju pada kampung di seberang rawa. Ia mengepalkan tinjunya. "Mereka tahu kita akan datang. Tapi ini baru permulaan."

Nesa tersenyum tipis, meskipun wajahnya tegang. "Mereka cerdik, aku akui. Tapi mereka tidak bisa menang melawan kita selamanya."

Revan menatap jembatan dengan tatapan dingin. "Kita tunggu. Mereka akan membuat kesalahan, dan saat itu tiba, kita habisi mereka semua."

Revan berdiri dengan rahang mengeras, matanya menatap tajam ke arah jembatan dan pertahanan Suku Sinto di seberang. Pasukannya yang tersisa bergerombol di belakangnya, sebagian masih terengah-engah akibat serangan panah beracun yang mendadak. Beberapa prajurit mengerang kesakitan, darah mengalir dari luka mereka yang tak kunjung berhenti.

"Kita tidak bisa terus menunggu," gumam Nesa sambil menyeka darah dari wajah seorang prajurit. "Racun mereka lebih mematikan dari yang kuduga. Kalau kita tetap diam, kita hanya memberi mereka waktu untuk menyerang lagi."


